Oleh Sunni Darussalam Kamis, 14 Desember 2017 Dilihat 1602 Kali

umroh mahfudzoh

Tak banyak yang tahu ihwal pesantren yang terletak di daerah Tempelsari, Maguwoharjo Depok Sleman Yogyakarta ini. Pesantren yang berdiri tahun 1988 ini didirikan langsung oleh pelopor organisasi Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Pondok pesantren Sunni Darussalam didirikan Nyai Umroh Mahfudhoh.

Santri di pondok ini berasal dari berbagai daerah, diantaranya luar Jawa. Adalah Tabi’ul Huda, sosok santri yang berasal dari Kepulauan Riau, namun lidahnya telah fasih menutur logat Jawa dengan bahasa halus, menandakan telah cukup lama ia menetap di Jawa. Pengabdian Huda di Darussalam sekaligus menandakan bahwa ternyata, pesantren ini cukup masyhur di Kepri.

Nyai Umroh asli Gresik Jawa Timur namun hijrah dan menetap di Yogyakarta. Nyai telah merencanakan pembangunan pondok pesantren ini pada tahun 1984. Keinginan ini harus tertunda setelah suami Nyai, Eyang Tholhah Mansur mengalami sakit keras dan mengakibatkannya wafat pada tahun 1986. 

Wafatnya suami, tak lantas membuat Nyai berputus asa akan cita-cita mendirikan pesantren yang berarti mengamalkan ilmunya. Nyai pun memulai merintis pondok ini baru pada tahun 1998. Di masa itu, terdapat sepuluh santri yang diasuhnya. Seiring berjalannya waktu, kian bertambah pula santri yang diasuhnya. 

Setelah Nyai wafat, pesantren yang sekarang diasuh oleh Kyai Fatah ini, yakni sang menantu, tengah mengasuh ratusan santri yang menetap. Para santri tersebut, kebanyakan berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Sebagaimana pondok pesantren pada umumnya, terdapat juga santri yang tak menetap di pondok, sebagai santri kalong.

Di sekitar pesantren inilah makam Nyai Umroh Mahfudhoh berada. Dikisahkan, konon Eyang Tholhah pernah berpesan agar setelah meninggal, makamnya dan makam Nyai Umroh jangan dipisah. Eyang ingin supaya jenazahnya tetap dekat dengan jenazah isteri tercintanya, dengan cara menyandingkan kedua makam. 

Namun Tuhan berkehendak lain. Barangkali benar, pertemuan keluarga di alam barzah tidak harus dengan syarat penyandingan makam secara fisik. Sehingga ruh mereka tetap bisa bertemu meski tempat pemakaman mereka berjauhan. Sesaat setelah Eyang Tholah meninggal, Kyai Ali Maksum yang merupakan pengasuh pondok pesantren Krapyak langsung meminta agar jenazah Eyang Tholhah dimakamkan di Bantul, bersama para keluarga pesantren Krapyak. Inilah yang terjadi.

Niat menetap dan mendirikan pesantren di Tumpelsari memang sudah ada, namun tak cukup untuk menolak permintaan para sepuh Kyai di Krapyak. Jenazah Eyang Tholhah dibawa ke Dongkelan, meninggalkan tanah yang kelak akan dibangunkan podok pesantren oleh isterinya. Meninggalkan tanah yang menjadi saksi atas keteguhan isteri salehahnya di bidang spirit pengembangan intelektualitas keagamaan. 

Sesampai pada tanggal 6 November 2009, keluarga dan santri kembali resah karena harus mengambil keputusan tentang di manakah sebaiknya, Nyai Umroh yang saat itu telah menyusul suami ke alam baka, harus dimakamkan. Apakah perlu dibawa ke Bantul juga agar dapat berdekatan dengan makam mendiang suaminya, ataukah cukup di Tumpelsari saja, agar para santri Darussalam leluasa berziarah ke makam Nyai mereka. 

Akhirnya, pertimbangan kedua menjadi pilihan. Pemakaman Nyai Umroh tak jauh dari lokasi pesantren  Sunni Darussalam, Tumpelsari Maguwoharjo Depok Sleman.

Share :
Subscribe artikel